Juri 1 : Ahmadun Yosi Herfanda
Pekerjaan : Redaktur sastra Harian Umum
Republika, penulis puisi, cerpen dan esai.
Karya : Sebelum Tertawa Dilarang (cerpen, Balai Pustaka, Jakarta, 1997), Ciuman Pertama
Untuk Tuhan (puisi dwi-bahasa, Logung Pustaka, 2004), Sebutir Kepala dan Seekor
Kucing (cerpen, Being Publishing, 2004), Badai Laut Biru (cerpen, Senayan Abadi
Publishing, Jakarta, 2004), dan The Worshipping Grass (puisi dwi bahasa, Bening
Publishing, Jakarta, 2005). Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta
Publishing House, 2006), Koridor yang Terbelah (kumpulan esei sastra, Jakarta
Publishing House, 2006).
Pesan : “Saya merasa bangga karena
mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu juri di Lomba Cipta Puisi
Tingkat Nasional (LCPTN) 2014 ini. Tidak saya sangka pesertanya banyak sekali
peserta dan memiliki karakter yang beragam pula. Setelah membaca naskah puisi
dari semua peserta saya rasa sudah banyak yang bagus dan memenuhi kriteria
penilaian kami yaitu masalah keselarasan unsur puisi kejelasan hakikat puisi.
Kami berharap penentuan pemenang ini tidak menimbulkan rasa iri atau dengki,
tapi malah memberikan motivasi kepada pihak yang bersangkutan maupun peserta
lainnya.”
Juri 1 : Teguh Esha
Pekerjaan : Penulis dan wartawan.
Karya : Pencipta karakter "Ali
Topan Anak Jalanan", Teguh Esha pernah menyanyikan karya-karyanya pada
acara pentas dan puisi bertajuk "Selamat Datang Cinta: Empati Teguh Esha
kepada Lapindo Brantas, Inc", di Auditorium GOR Bulungan, Jakarta.
Pesan : “Puisi – puisinya bagus,
berkwalitas dan berbobot. Namun memang ada beberapa puisi yang menitik beratkan
pada pemilihan diksi saja dan tidak mempedulikan kesinambungan serta makna dari
keseluruhan puisi. Semoga lomba ini bermanfaat bagi kita semua.”
Juri 3 : Adhie Massardi
Pekerjaan : Penulis puisi dan cerpen, Aktifis pro
demokrasi.
Karya : Puisi “Negeri Para Bedebah”.
Pesan : “Semua puisi nya membuat saya
kagum. Karya anak bangsa memang patut dibanggakan. Sedikit pesan saja, masih
banyak peserta yang terpaku dengan susunan, kerangka dan bentuk puisi lama
sehingga terlihat kaku dan malah terkesan tidak bebas. Lomba ini memberikan
tema bebas kepada seluruh peserta tentu bertujuan agar seluruh peserta dapat membuat
karya puisi dengan sudut pandang sebebas – bebasnya. Mengenai judul, mungkin
penting judul dibuat unik sehingga menarik pembaca, namun kita harus selalu
mengingat bahwa keterkaitan judul dengan isi serta makna puisi sangatlah erat,
jadi sebaiknya pemilihan judul dipertimbangkan dari keseluruhan makna puisinya.
Terimakasih.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar